KAJIAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA BERDASARKAN OHSAS

1.PENDAHULUAN

Keselamatan di tempat kerja dan tindakan pencegahannya merupakan salah satu perhatian utama dalam ergonomi. Banyaknya kecelakaan dan kesalahan kerja yang disebabkan oleh faktor manusia menunjukkan perlunya tindakan dan metode pencegahan yang sistematis dan menyeluruh. Salah satunya adalah melalui pengembangan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja. Adanya sistem manajemen keselamatan kerja berikut penerapannya juga akan menghindarkan perusahaan atau organisasi dari hambatan teknis dalam era globalisasi perdagangan[1].

Pada dasarnya keselamatan instalasi sistem proses atau industri lain dapat ditingkatkan melalui pendekatan teknis dan pendekatan non-teknis atau manajemen. Misalnya melalui rancangan sistem dan komponen yang andal, tersedianya manajemen keselamatan pada fasilitas yang disusun berdasarkan hasil kajian yang teliti, atau proses pembelajaran dari pengalaman dan hasil analisis terhadap kejadian atau kecelakaan. Penentuan langkah dan program penanganan keselamatan tersebut cenderung berbeda untuk setiap organisasi dan dipengaruhi oleh karakteristik organisasi, faktor moral, etika, pertimbangan ekonomi, dsb. Sehingga keberadaan standar atau ketentuan yang mengatur pelaksanaan program keselamatan yang harus dipenuhi oleh suatu instalasi sistem proses sangat diperlukan untuk mendorong adanya pertanggungjawaban yang jelas terhadap program keselamatan dan pencegahan kecelakaan yang dijalankan.

Sejumlah standar dan panduan untuk program keselamatan telah dikembangkan guna mengurangi timbulnya kecelakaan atau problem keselamatan kerja, yaitu melalui penerapan manajemen keselamatan yang baik. Sebagai contoh adalah Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang dikeluarkan oleh departemen tenaga kerja Indonesia, dan bersifat umum, dimana penerapannya disesuaikan dengan

jenis kegiatan, tingkat resiko, besarnya instalasi/sistem yang dikelola, dan jumlah pekerja[1]. Beberapa negara lain secara nasional atau regional juga telah mengembangkan sistem manajemen keselamatan tersebut.

Selain itu untuk industri tertentu yang lebih kompleks terdapat sistem manajemen keselamatan dengan persyaratan yang lebih ketat dan spesifik. Misalnya pada instalasi reaktor nuklir, instalasi kimia, atau pada transportasi udara, dimana tingkat bahaya dan resiko yang ditimbulkan apabila terjadi kegagalan relatif lebih tinggi dibandingkan sistem proses konvensional. Untuk itu sejumlah standar dan persyaratan khusus dikeluarkan oleh lembaga yang ditunjuk agar kriteria keselamatan dapat diberikan secara lebih rinci dan relevan sehingga keselamatan dapat lebih terjamin.

Makalah ini membahas metode pengembangan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja berdasarkan OHSAS 18001-1999. Sebagai perbandingan, kajian terhadap sistem manajemen untuk sistem proses yang lebih khusus seperti INSAG 13 yang digunakan pada reaktor nuklir juga akan diberikan. OHSAS 18001 dipilih karena merupakan salah satu materi utama yang menjadi acuan dalam penyusunan sistem manajemen keselamatan kerja di beberapa negara, termasuk Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK-3) di Indonesia. Sedangkan INSAG-13 merupakan salah satu panduan yang ditujukan untuk peningkatan keselamatan dalam manajemen dan pengoperasian pada reaktor daya.

Perkembangan Standar Manajemen Keselamatan

Pengembangan standar untuk sistem manajemen keselamatan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman telah dilakukan secara intensif pada dua dekade terakhir. Tidak seperti dua standar sistem manajemen yang lain yaitu ISO 14000 yang dikeluarkan tahuan 1987 dan berkaitan dengan sistem manajemen lingkungan dan ISO 9000 yang mengatur tentang sistem manajemen kualitas dan telah diadopsi di lebih dari seratus negara, standar untuk sistem manajemen keselamatan dan kesehatan belum menjadi suatu ketentuan yang dipersyaratkan. Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja masih dalam proses pengembangan serta bukan merupakan standar internasional yang wajib dipenuhi, sehingga dalam pelaksanaannya belum memerlukan sertifikasi dan akreditasi.

Munculnya gagasan penyusunan suatu standar keselamatan kerja didorong oleh kondisi lingkungan kerja yang tidak aman, dimana intensitas kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja relatif tinggi. Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, penyebab terjadinya kecelakaan kerja dapat berupa kesalahan rancangan atau manajemen yang dapat menciptakan sistem kerja yang buruk[2]. Sehingga beberapa negara industri berinisiatif untuk memperhatikan kelemahan tersebut dan berusaha memperbaikinya. Sebagai contoh di Amerika terdapat dua organisasi pemerintah yang menangani hal tersebut. Pertama adalah OSHA (Occupational Safety and Health and Administration) yang berada dibawah departemen perburuhan dan ditujukan untuk menerapkan program keselamatan, mengembangkan standar kesehatan dan keselamatan kerja, serta melakukan tugas pengawasan, melakukan perlindungan tenaga kerja. Organisasi yang kedua adalah NIOSH (National Institute for Occupational Safety and Health), yang bertugas untuk melakukan penelitian dan fungsi pendidikan atau pelatihan[3].

Salah satu sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang telah dikembangkan dan dijadikan acuan adalah OHSAS (Occupational Health and Safety Assessment Series) 18000. OHSAS18000 meliputi OHSAS 18001 yaitu sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (OHSMS-Occupational Health and Safety Management Systems). Standar ini dikembangkan dari British Standard for Occupational Health and Safety Management Systems BS8800 tahun 1996. Selain OHSAS-18001 terdapat pula beberapa dokumen lain terkait seperti OHSAS-18002 yang juga dikeluarkan oleh BSI(British Standard Institute) dan berisi petunjuk tentang penerapan OHSAS-18001, atau dokumen lain seperti ILO-OSH2001. Tujuan utama penyusunan OHSAS 18001 adalah untuk mengurangi dan mencegah kecelakaan dan kerugian yang diakibatkan sistem kerja yang tidak aman.

 

Sistem Manajemen OHSAS 18001:1999

Karakteristik dan spesifikasi dari OHSAS memberikan persyaratan pada sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja(OH&S-Occupational Health & Safety), agar organisasi memungkinkan untuk mengendalikan risiko pada OH&S serta memperbaiki kinerjanya. Namun demikian dalam petunjuk ini kriteria unjuk kerja keselamatan dan kesehatan kerja secara khusus, atau spesifikasi yang rinci untuk perancangan sistem manajemen tidak ditentukan. Spesifikasi OHSAS tersebut berlaku secara umum dan dapat diterapkan untuk semua organisasi dimana jangkauan penerapannya bergantung pada faktor faktor kebijakan OH&S organisasi, sifat kegiatan serta resiko dan tingkat kerumitan operasi. Spesifikasi yang diberikan berguna bagi organisasi, antara lain untuk:

􀂃 Menetapkan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja untuk menghilangkan atau memperkecil resiko pada karyawan atau pihak lain yang terlibat.

􀂃 Menerapkan, memelihara dan selalu memperbaiki sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja

􀂃 Mendapatkan sertifikasi atau akreditasi manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang diterapkan

Sebelum dilakukan pembahasan lebih lanjut, terdapat beberapa pengertian atau istilah yang perlu dipahami. Pengertian kesehatan dan keselamatan dapat dibedakan dalam dua cara. Keselamatan cenderung berkaitan dengan situasi yang menyebabkan sakit/luka atau lebih terokus pada kecelakaan akibat kondisi akut (mendadak atau parah). Sedangkan kesehatan berkaitan dengan situasi yang menyebabkan penyakit atau memfokuskan pada kondisi buruk yang terjadi lebih lamban, misalnya dampak rancangan sistem kerja yang tidak baik[3]. Pengertian lain yang cukup penting yaitu sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja merupakan bagian dari sistem manajemen menyeluruh yang memungkinkan manajemen resiko K3 yang berkaitan dengan tujuan organisasi. Hal ini mencakup struktur organisasi, perencanaan, praktik, prosedur, tanggung jawab, penerapan, pencapaian tujuan serta peninjauan dan pemeliharaan kebijakan K3 organisasi.

Pedoman dalam Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan yang baik terbukti mampu mengurangi resiko terjadinya kecelakaan, melindungi pekerja dan aset perusahaan/ organisasi serta ikut menjamin keberlangsungan organisasi. Prinsip dasar dalam penyusunan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja meliputi beberapa unsur berikut:

1. Komitmen dari manajemen: Budaya keselamatan dan kesehatan yang positif perlu diterapkan dan ini hanya dapat dilakukan apabila ada komitmen dari para manajer senior dan mengkomunikasikan komitmen ini kepada semua personil di perusahaan.

2. Penilaian awal kondisi yang ada: Organisasi yang ingin menetapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan

kerja harus melaksanakan penilaian awal terhadap manajemen dan operasi yang diterapkan untuk identifikasi potensi bahaya dan pengendaliannya.

3. Organisasi dan tanggung jawab: Pemimpin yang aktif dan mempunyai visi, serta tanggung jawab semua personil sesuai dengan tugasnya perlu didefinisikan dengan jelas utuk menjaga diri mereka sendiri dan rekan kerja. Tujuannya selain untuk mencegah kecelakaan juga untuk meningkatkan motivasi pekerja agar selalu mempraktikan keselamatan.

4. Perencanaan : Sistem harus direncanakan dan dikomunikasikan agar resiko yang muncul bisa dikurangi. Bahaya dan pengendaliannya perlu diidentifikasi menggunakan tanda peringatan dan instruksi. Pengendalian keselamatan dan kesehatan sebaiknya tidak dipisahkan dari prosedur kendali untuk aktivitas tersebut.

5. Implementasi: Ukuran pengendalian dan praktik kerja yang aman perlu ditekankan dan harus menjadi bagian rutin dari aktivitas yang dilakukan. Manajemen harus memberikan contoh dan menjamin bahwa kendali keselamatan telah diterapkan secara efektif.

6. Pengukuran kinerja: Pengukuran kinerja dari sistem sebaiknya dilakukan dan diperbandingkan berdasarkan standar yang telah ditentukan sebelumnya. Pemantauan kinerja oleh organisasi lain dapat dilakukan dengan berbagai cara bergantung pada jenis bahaya dan pengendalian yang digunakan.

7. Audit dan review terhadap kinerja: Komitmen terhadap perbaikan dan penyempurnaan yang berkelanjutan merupakan hal penting dalam sistem manajemen keselamatan dan kesehatan. Hal ini memerlukan review yang terus menerus terhadap praktik yang dilakukan dan kinerja sistem. Audit dilakukan untuk menjamin bahwa sistem kendali dan prosedur dilaksanakan sesuai rencana yang disusun, dan untuk menjamin agar pengendalian yang dilakukan sesuai dengan resiko yang diperhitungkan dan cukup efektif dalam mencegah kecelakaan.

Unsur Unsur Manajemen OH&S

Sistem manajemen OH&S harus ditetapkan dan dipelihara dalam kegiatan organisasi. OHSAS 18001 terdiri dari beberapa tahapan dasar yang meliputi siklus perencanaan, implementasi, pemeriksaan dan review. Model ini sangat mirip dengan struktur yang terdapat pada dokumen sistem manajemen lain seperti ISO 14001. Adanya kemiripan pada sistem manajemen tersebut akan memudahkan instalasi atau organisasi dalam menciptakan sistem manajemen yang terintegrasi. Unsur-unsur dalam manajemen OH&S ditampilkan dalam Gambar 2.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2

Pada tahap awal, setelah diperoleh komitmen dari pihak manajemen, langkah yang perlu dilakukan adalah kajian dan penilaian awal status dan program OH&S yang ada. Hal yang perlu dikaji pada langkah awal ini antara lain :

􀂃 Identifikasi persyaratan peraturan dan perundangan yang berlaku.

􀂃 Evaluasi dan pendataan risiko

􀂃 Evaluasi praktik yang dilakukan, prosedur serta pengukuran unjuk kerja terhadap standar, peraturan dan kebijakan internal maupun eksternal

􀂃 Dampak finansial yang meliputi keuntungan dan kekurangannya

Penilaian sebaiknya dilakukan secara terencana terhadap fasilitas dan lingkungan kerja termasuk aktivitas pengoperasian, peralatan, bahan dan limbah. Kajian awal ini dapat dilakukan oleh tim pengkaji dengan tinjauan langsung, menggunakan kuesioner atau melalui wawancara. Hasil kajian diberikan dalam bentuk laporan yang lengkap dan meliputi semua aspek kinerja keselamatan dan kesehatan, risiko dan kelemahan. Hal ini meliputi

􀂃 Identifikasi bagian mana kendali dapat ditingkatkan,

􀂃 Identifikasi di mana resiko dan bahaya dapat dikurangi

􀂃 Identifikasi di mana penekanan dan prioritas diberikan untuk peningkatan

􀂃 Identifikasi agar sesuai dengan persyaratan peraturan dan perundangan, serta bagaimana pengukuran kinerja dilakukan.

  • Kebijakan OH&S

Pada pengembangan manajemen kesehatan dan keselamatan kerja berdasar OHSAS 18001, unsur penting yang pertama adalah keharusan adanya kebijakan OH&S yang ditetapkan oleh manajer puncak atau pimpinan yang dengan jelas menyatakan tujuan OH&S secara keseluruhan dan komitmen untuk memperbaiki kinerjanya. Kebijakan OH&S ini dikembangkan berdasarkan laporan hasil kajian awal dan kajian risiko yang dilakukan. Kebijakan yang ditetapkan sebaiknya memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.Sesuai dengan sifat dan skala risiko OH&S organisasi

2.Mencakup komitmen pada perbaikan berlanjut

3.Mencakup komitmen untuk memenuhi perundangan OH&S yang berlaku dan persyaratan lain yang diikuti oleh organisasi

4.Terdokumentasi, diterapkan dan dipelihara, serta dikomunikasikan ke semua karyawan

5.Tersedia bagi pihak yang berkepentingan dan ditinjau secara berkala agar tetap relevan dengan kebutuhan organisasi

b.  Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan untuk memberikan bahan masukan pada penyusunan kebijakan seperti kajian awal dan kajian risiko dapat dipandang sebagai bagian dari kegiatan perencanaan. Organisasi harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk identifikasi bahaya secara terus menerus, kajian risiko serta sarana pengendalian yang diperlukan. Hal ini mencakup kegiatan rutin dan tidak rutin, kegiatan semua personil yang mempunyai akses ke tempat kerja, serta fasilitas di tempat kerja. Hasil kajian risiko dan pengendalian tersebut digunakan juga dalam penetapan tujuan OH&S. Pada tahap perencanaan perlu diperhatikan pula persyaratan hukum yang berlaku, perumusan tujuan dan pemeliharaanya, serta bagaimana penentuan program manajemen OH&S dilakukan.

Metode untuk pengenalan bahaya dan risiko bervariasi dari yang berupa metoda numerik yang kompleks hingga berupa keputusan subyektif yang sederhana. Pada awalnya teknik untuk pengkajian risiko ini dikembangkan di bidang keselamatan untuk menilai risiko pada suatu sistem proses yang berakibat pada terjadinya kecelakaan dan bahaya pada pekerja dan penduduk sekitar. Salah satu teknik yang cukup banyak digunakan adalah HAZOP (Hazard and Operability), yang dapat mengidentifikasi bagian dari proses yang mempunyai tingkat risiko tertinggi serta problem dalam operasi. Metode untuk kajian risiko dalam OH&S harus ditetapkan sesuai lingkup, sifat dan waktunya agar selalu proaktif serta dapat memberikan informasi untuk penentuan persyaratan fasilitas, kebutuhan pelatihan maupun pengembangan kendali operasi. Panduan terhadap pengenalan bahaya, kajian risiko dan pengendaliannya dibahas lebih rinci dalam OHSAS 18002.

24

c. Penerapan dan pengoperasian

Tahap berikutnya setelah perencanaan adalah penerapan dan pengoperasian kebijakan maupun rencana program OH&S yang telah ditetapkan. Terdapat tujuh komponen dalam tahap penerapan dan pengoperasian yaitu meliputi penetapan struktur dan tanggungjawab, pelatihan, kesadaran dan kompetensi, konsultasi dan komunikasi, dokumentasi, pengendalian dokumen dan data, pengendalian operasional serta kesiagaan dan ketanggapan darurat. Informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran kinerja serta audit akan berpengaruh pada penerapan dan pengoperasian yang diterapkan.

Pada struktur dan tanggung jawab, aturan dan kewenangan personil serta fasilitas dan proses organisasi yang dikelola harus ditetapkan dengan jelas, dikomunikasikan dan didokumentasikan. Organisasi harus menunjuk salah satu pimpinan puncak untuk bertanggung jawab terhadap sistem manajemen OH&S yang diterapkan. Selain itu kompetensi personil pelaksana harus juga perlu diperhatikan terutama untuk melakukan tugas yang bisa memberikan dampak pada OH&S di tempat kerja. Kompetensi tersebut dapat ditetapkan berdasarkan pendidikan, pelatihan atau pengalaman yang dimiliki. Untuk peningkatan kompetensi, prosedur pelatihan yang digunakan perlu mempertimbangkan tingkat tanggung jawab, risiko dan kemampuan yang dimiliki personil maupun kriteria kompetensi yang dibutuhkan.

Komunikasi dan dokumentasi juga berperan penting pada keberhasilan program OH&S. Prosedur komunikasi perlu ditetapkan untuk memastikan bahwa pertukaran dan penyampaian informasi dapat berlangsung dengan benar. Informasi harus dikelola melalui sistem dokumentasi yang baik, untuk itu organisasi harus menetapkan dan memelihara prosedur pengendalian dokumen dan data, sehingga data yang tersedia selalu relevan dan lebih mudah dicari dan ditelusuri. Prosedur yang dikelola juga meliputi prosedur untuk rancangan tempat kerja, proses, prosedur operasi dan organisasi kerja termasuk adaptasi terhadap kemampuan manusia. Organisasi harus pula menetapkan dan memelihara prosedur untuk mengenal dan mengantisipasi kejadian dan kondisi darurat. Rencana dan prosedur kesiapsiagaan dan ketanggapan darurat tersebut harus ditinjau terutama setelah terjadi kejadian atau situasi darurat.

d. Pemeriksaan dan tindakan koreksi

Unsur pemeriksaan dan tindakan koreksi diantaranya meliputi pengukuran dan pemantauan kinerja, penanganan terhadap kejadian dan kecelakaan serta tindakan korektif dan pencegahan, pengelolaan rekaman termasuk pemusnahannya jika sudah tidak digunakan, serta pelaksanaan audit. Pemantauan dan pengukuran kinerja OH&S harus diakukan secara teratur dan mengikuti prosedur yang ditetapkan. Pengukuran dilakukan secara kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan kebutuhan organisasi dan diharapkan mampu memberikan informasi untuk pelaksanaan analisis tindakan korektif dan pencegahan berikutnya.

Audit sistem OH&S dilakukan secara berkala dan bertujuan untuk menentukan apakah sistem manajemen OH&S telah diterapkan secara benar dan efektif dalam memenuhi kebijakan dan tujuan organisasi, serta untuk mengkaji hasil tinjauan ulang yang diperoleh dari proses audit sebelumnya. Pelaksanaan audit sebaiknya dilakukan oleh suatu tim yang independen(tidak berarti harus dari luar organisasi) terhadap individu yang memiliki tanggung jawab langsung atas kegiatan yang diperiksa. Proses audit dapat dilakukan melalui pengukuran indikator kinerja, survei pekerja atau peer review.

e. Tinjauan manajemen

Pimpinan puncak organisasi, pada waktu tertentu harus melakukan tinjauan terhadap sistem manajemen OH&S, untuk memastikan adanya kesesuaian, kecukupan dan efektifitas yang terus menerus. Tinjauan manajemen ini harus menanggapi kemungkinan adanya kebutuhan perubahan pada kebijakan, tujuan dan unsur lain dari sistem manajemen OH&S, dalam kaitannya dengan hasil audit sistem manajemen OH&S. Tinjauan dan hasil yang diperoleh harus didokumentasikan sehingga dapat digunakan untuk perbaikan selanjutnya.

Manajemen Keselamatan Instalasi Nuklir

Manajemen keselamatan merupakan bagian integral dari sistem manajemen kualitas organisasi, yang digunakan untuk menjamin kualitas atas semua aspek dari organisasi seperti aspek keselamatan dalam pengoperasian PLTN. Namun demikian keberadaan sistem manajemen kualitas tidak dengan sendirinya akan menjamin adanya sistem manajemen keselamatan yang efektif. Sehingga beberapa usaha pengembangan manajemen keselamatan pada pengoperasian reaktor nuklir banyak dilakukan secara khusus, mengingat pentingnya aspek keselamatan dan resiko yang mungkin ditimbulkan pada sistem ini.

Keselamatan operasi reaktor nuklir diuraikan dalam INSAG-13 (International Nuclear Safety Advisory Group) yang bertujuan untuk memberikan gambaran untuk pengembangan sistem manajemen keselamatan pengoperasian yang efektif. Sistem manajemen keselamatan dalam panduan ini didefinisikan sebagai pengaturan yang dilakukan oleh organisasi untuk pengelolaan keselamatan dalam rangka mempromosikan budaya keselamatan yang kuat guna mencapai kinerja keselamatan yang baik[5]. Sistem manajemen keselamatan dalam INSAG 13 mempunyai dua tujuan umum yaitu:

1. Meningkatkan unjuk kerja keselamatan organisasi yang meliputi perencanaan, pengendalian dan pengawasan keselamatan dalam aktivitas normal, transien dan darurat, serta

2. Memelihara dan mendukung terciptanya budaya keselamatan yang kuat melalui pengembangan sikap dan perilaku keselamatan yang baik sehingga dapat melaksanakan tugas yang dibebankan dengan selamat.

Beberapa aturan yang dibutuhkan untuk menjamin keselamatan pengoperasian PLTN diuraikan secara rinci dalam petunjuk keselamatan ini. Selain itu INSAG-13 juga memuat sejumlah topik yang berkaitan dengan manajemen keselamatan, yaitu:

􀂃 -Pengenalan sistem manajemen keselamatan

􀂃 -Manajemen keselamatan selama perubahan organisasi dan personil

􀂃 -Pemantauan efektifitas melalui pengukuran unju kerja

􀂃 -Identifikasi penurunan unjuk kerja keselamatan

Pada instalasi nuklir, sistem manajemen keselamatan yang dikembangkan harus disesuaikan dengan ketentuan perundangan dan persyaratan yang dikeluarkan badan pengawas serta lembaga lain yang berwenang. Kerangka dasar dari sistem manajemen keselamatan dalam INSAG 13 meliputi empat elemen utama yaitu:

1. Penentuan persyaratan keselamatan dan organisasi, yang meliputi penentuan kebijakan keselamatan dan tanggung jawab serta aktivitas yang dibutuhkan untuk jaminan keselamatan dan pemenuhan ketentuan perundangan yang berlaku.

2. Perencanaan, kendali dan dukungan, meliputi pengaturan organisasi untuk menjamin aktivitas yang dibutuhkan dapat dilakukan secara selamat. Perencanaan dan pengendalian pekerjaan akan efektif jika diberikan pada pemegang tugas.

3. Implementasi, yaitu meliputi pelaksanaan tugas-tugas individu agar dapat dilakukan dengan selamat. Keefektifan sistem manajemen keselamatan sangat bergantung pada dukungan individu. Dalam budaya keselamatan hal ini meliputi sikap bertanya, pendekatan yang bijaksana dan teliti serta komunikasi yang baik.

4. Audit, review dan umpanbalik, meliputi peninjauan terhadap pencapaian rencana yang disusun serta penerapannya, dan perbaikan keselamatan melalui pembelajaran dan pengalaman.

PEMBAHASAN

Hampir semua sistem dapat dipandang terdiri atas subsistem teknis dan subsistem sosial. Subsistem teknis berkaitan dengan semua peralatan teknis, infrastruktur, catu daya, sedangkan subsistem sosial meliputi kesatuan aktivitas manusia dalam sistem yang meliputi pengoperasian, perawatan dsb. Organisasi kerja merupakan hubungan antara mesin dan organisasi sosial dari individu yang mengoperasikan. Organisasi kerja yang baik akan mampu menciptakan iklim kerja yang mendukung keberhasilan pencapaian tujuan organisasi secara efektif, salah satunya dapat dicapai melalui penerapan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang sesuai.

OHSAS18001-1999 memberikan spesifikasi yang cukup lengkap untuk pengembangan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja sehingga banyak dijadikan acuan dalam penetapan ketentuan manajemen K3 di sejumlah negara. Namun demikian karena ditujukan untuk dapat diterapkan pada industri dan organisasi secara umum, sejumlah pertimbangan harus dilakukan agar sistem manajemen yang disusun akan sesuai dengan permasalahan dan kondisi organisasi. Untuk itu kajian awal serta identifikasi risiko yang dilakukan menjadi penting karena akan berpengaruh pada penetapan kebijakan organisasi dan perumusan tujuan, serta pelaksanaannya. OHSAS 18001 juga mensyaratkan kajian dan evaluasi yang terus menerus terhadap hasil yang

dicapai, sehingga perbaikan dan penyempurnaan sistem keselamatan dapat senantiasa dilakukan. Penentuan indikator kinerja yang tepat akan membantu dalam melakukan

evaluasi terhadap sistem manajemen keselamatan yang diterapkan.

Sejumlah ketentuan atau panduan lebih rinci untuk pengembangan sistem manajemen keselamatan pada industri tertentu juga banyak disusun. Salah satunya adalah INSAG-13 yang ditujukan untuk manajemen pengoperasian reaktor nuklir. Kajian yang dilakukan menunjukkan adanya kesesuaian antara unsur-unsur pada OHSAS 18001 dengan INSAG-13. Namun demikian dalam INSAG-13 juga memberikan penekanan akan pentingnya aspek budaya keselamatan serta pengembangannya dalam organisasi agar diperoleh peningkatan keselamatan pada aktivitas pengoperasian reaktor nuklir. Selain itu komitmen organisasi terhadap unjuk kerja keselamatan yang tinggi perlu ditunjukkan melalui kebijakan keselamatan yang jelas. Dalam pedoman ini juga dijelaskan peranan badan pengawas untuk mendorong diperolehnya sistem manajemen keselamatan yang efektif.

Pengembangan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja pada sistem proses, juga harus mempertimbangkan ketentuan yang berlaku baik secara nasional maupun regional. Di Indonesia hal tersebut dijelaskan dalam peraturan menteri tenaga kerja di Indonesia (PERMEN Tenaga Kerja Nomor 5 tahun 1996), dimana setiap perusahaan yang memperkerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran, dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen K3. Pedoman penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja diuraikan dalam lampiran peraturan tersebut, yang unsur-unsurnya hampir sama dengan yang terdapat dalam OHSAS 18001-1999.

OHSAS18001 maupun INSAG 13 menekankan pentingnya dukungan dan komitmen pimpinan organisasi dalam pengembangan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja. Tersedianya sumberdaya bagi penerapan, pengendalian dan perbaikan sistem manajemen keselamatan secara terus menerus dimungkinkan apabila ada komitmen yang kuat untuk melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan. Selain itu organisasi hendaknya memberikan prioritas dan kepentingan yang sesuai pada pencapaian standar keselamatan dan kesehatan kerja seperti halnya aspek penting lain. Komitmen yang kuat dari pimpinan dapat menjadi motivasi bagi individu dan pemegang tanggung jawab untuk melakukan tugasnya secara sungguh-sungguh. Komitmen dan kebijakan tersebut harus selalu ditinjau ulang agar sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi oleh organisasi.

KESIMPULAN

Pada dasarnya unsur dan tahapan yang terdapat dalam sistem manajemen keselamatan telah ada dan digunakan dalam banyak organisasi atau industri secara umum, tetapi pada sebagian tertentu tidak terhubung dengan jelas sebagai suatu siklus yang lengkap. Untuk itu perbaikan dan penyempurnaan terhadap sistem manajemen yang diterapkan perlu dilakukan dan disesuaikan dengan kondisi dan tujuan organisasi. Pengembangan sistem manajemen keselamatan sesuai dengan standar atau ketentuan yang sudah teruji beserta indikator kinerjanya akan membantu dalam pelaksanaan dan evaluasi yang dilakukan, sehingga kemajuan dan peningkatan yang diperoleh akan lebih terukur dan diketahui secara lebih mudah.

Spesifikasi OHSAS 18001 mengikuti siklus plan-do-check-review, dengan secara bersamaan menekankan pada perbaikan yang berkesinambungan. Struktur dalam model ini sangat sesuai dengan dokumen sistem manajemen lainnya seperti ISO 14001, sehingga membantu fasilitas dalam mengupayakan sistem manajemen yang terintegrasi. Sistem manajemen yang diberikan dalam OHSAS 18001 dapat digunakan secara umum pada organisasi atau industri, dimana keselamatan pekerja dan peningkatan efektifitas melalui pengurangan kesalahan kerja dan kecelakaan menjadi dasar pengembangan sistem manajemen keselamatan ini. Unsur-unsur yang terdapat dalam sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja pada petunjuk ini terdapat pula dalam petunjuk sistem manajemen keselamatan pengoperasian reaktor nuklir (INSAG-13), yaitu terdiri dari komitmen dan kebijakan manajemen, perencanaan, implementasi dan pengoperasian, pemeriksaan dan tindakan koreksi serta tinjauan manajemen.

Untuk mengantisipasi perkembangan ketentuan dalam era perdagangan global, kesadaran untuk mengembangkan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja ini sangat diperlukan, terutama dalam rangka perlindungan terhadap keselamatan tenaga kerja dan komunitas sekitar. Kesadaran akan pentingnya perlindungan tersebut perlu dituangkan dalam bentuk peraturan-peraturan yang lebih ketat dan wajib diikuti oleh industri atau organisasi yang terkait.

~ oleh robisamsudin pada Oktober 18, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: